Fri. Jul 3rd, 2020

Pembawa perubahan pendidikan di Manokwari: Risna Hasanudin

3 min read

Manokwari: Perayaan Tahun Baru 2020 dan Natal 2019 baru saja berakhir, tetapi suasananya masih kental di Manokwari, Papua Barat. A Risna Hasanudin (31), seorang wanita Muslim yang tinggal di Manokwari, berpartisipasi dalam mengalami kegembiraan.

Dia bisa merasakan toleransi besar dalam masyarakat minoritas. Tidak hanya diikutsertakan dalam perayaan itu, masyarakat sekitar siap mengganti bahan baku untuk makanan karena keberadaannya.

Suasana belajar bersama anak-anak PAUD di desa Kobrey.

Situasi saat ini bertentangan dengan suasana beberapa waktu lalu, saat terjadi kerusuhan antara masyarakat Manokwari. Pada saat itu, sistem belajar mengajar ditutup karena kondisi yang tidak mendukung.

Risna tidak tinggal diam dalam menghadapi situasi tersebut. Dia mencari titik temu dengan merencanakan diskusi terbuka di Manokwari selatan dengan Komite Nasional untuk Pemuda Indonesia (KNPI) untuk mengurangi situasi sehingga akan lebih kondusif. Tujuannya adalah untuk mendapatkan siswa sekolah menengah di tingkat universitas untuk menemukan akar penyebab kerusuhan.

Singkatnya, pelanggaran rasisme dan HAM telah diakui sebagai penyebab utama kerusuhan tersebut. Diharapkan dengan diskusi yang intens seperti itu, masalah dapat diatasi, diskusi berjalan dengan baik, sehingga siswa tidak banyak terpengaruh dan tidak mudah terpancing.

Mengapa Papua Tertarik

Sejak Risna memberikan pelajaran pada tahun 2006 di Ambon, ia sudah tertarik pada Papua dan memberikan konferensi kerja nyata (KKN) di sana. Dengan semua masalah yang dihadapi, Risna termotivasi untuk membantu dengan semua yang dia miliki.

Para wanita di desa Kobrey sangat antusias dengan ide pembuatan noken, tas tradisional Papua yang terbuat dari serat kayu.

Tak lama setelah menyelesaikan studinya, Risna memulai perjuangannya. Dia tinggal di salah satu rumah di desa Kobrey selama dua tahun. Rintangan dan rintangan mulai berdatangan dari semua kalangan. Itu tidak diterima oleh publik dan dianggap memalukan.

Risna juga merasakan kurangnya tanggapan dari pemerintah daerah. Saat itu, pendidikan belum bersatu. Dia menyadari bahwa masih ada kekurangan mental tentang pentingnya pendidikan.

Risna belum menyerah. Dia mulai dengan mengajar wanita dan membuka rumah pintar Arfak untuk wanita. Ia juga membantu memasarkan produk untuk wanita Papua, yaitu Noken, tas tradisional Papua yang terbuat dari serat kayu.

Saat ini, perjuangan Risna telah memasuki tahun keenam. Dia tidak berhenti pada melek huruf untuk wanita di Arfak dan berhasil mendesak pemerintah setempat untuk menambahkan Layanan Pendidikan Prasekolah (PAUD) di beberapa tempat di Manokwari, yang juga membuka lowongan untuk sukarelawan yang ingin mengajar. Risna juga membuka perpustakaan gratis untuk sekolah dan perpustakaan seluler untuk meningkatkan minat baca.

"Syukurlah, biaya operasional dan biaya sukarelawan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah daerah," kata Risna. Hal ini membuat Risna senang dengan dukungan positif dari pemerintah sehingga program dapat berjalan. Selain itu, Risna juga mendapat fasilitas berupa rumah tinggal.

Dengan penduduk asli desa Kobrey.

Selain pendidikan, Risna juga menjalankan beberapa program yang berfokus pada peningkatan gizi anak-anak sebagai masalah serius di Papua. Dia membuka posyandu dan mendistribusikan dukungan nutrisi tambahan dalam bentuk susu dan kacang hijau.

Upaya Risna dalam beberapa tahun terakhir telah membuahkan hasil. Namun, perkembangan pendidikan di Papua terlihat secara bertahap. Salah satunya adalah tingkat pendidikan anak-anak di Kobrey, yang meningkat pada 2018. "Jumlah anak yang bersekolah di Kobrey meningkat pada 2018. Biasanya hanya satu atau dua anak melanjutkan pendidikannya. Pada tahun 2018, ada 15 siswa sekolah menengah, 17 siswa sekolah menengah dan bahkan 5 anak yang melanjutkan pendidikan. Alhamdulillah, antusiasme sekarang luar biasa untuk sekolah, "kata Risna.

Kerja kerasnya dihargai oleh Astra melalui SATU Indonesia Awards pada tahun 2015 di bidang pendidikan dan memenangkan hadiah 60 juta rupee. Harapan Risna itu "sederhana?", Artinya, dia ingin membawa perubahan yang lebih besar kepada masyarakat Papua.

Semangat Risna untuk memajukan masyarakat Papua konsisten dengan cita-cita kemakmuran Astra dengan bangsa.

Pos Pembawa perubahan pendidikan di Manokwari: Risna Hasanudin pertama kali muncul AUTO2000.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.